Backpacker Ke Dieng
Ini post udah lama banget. Saya sempet post di blog yang lama lalu saya pindahkan kesini karena ingin fokus punya satu blog aja. Ini perjalanan di tahun2015. Selain Dieng saya juga sempat ke Bali hanya pada saat itu perjalanan keluarga dan kami pergi ke tempat-tempat rekreasi umum saja. Nanti kalau balik lagi ke Bali akan saya post ceritanya ya.
Dieng, dikenal dengan julukan "Negeri di Atas Awan". Dieng terletak di kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Tempatnya dingiiiiiiinnnnn sekaliiiiiii. Pokok e dingin banget. Hahahaha
Dieng, dikenal dengan julukan "Negeri di Atas Awan". Dieng terletak di kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Tempatnya dingiiiiiiinnnnn sekaliiiiiii. Pokok e dingin banget. Hahahaha
Siang hari berasa pake ac, kalau malam hari berasa pake sepuluh ac (oke, lebay). Malam hari saya tidur pakai jaket, celana panjang, kaos kaki, sarung tangan, selimut, dan bed cover super tebal. Kalau mandi air anget, terus ditinggal benter, airnya langsung dingin lagi. Pokoknya dingin. Hahahaha
13 Mei malam - 14 Mei malam. Total perjalan menuju Dieng dari Jakarta dengan mobil APV ditempuh selama 23 jam (karena nyasar). Perkiraan awal sampai Dieng adalah pagi, maksimal jam 1 siang. Tapi malah semuanya kami habiskan di jalanan. Berikut kisah perjalanan kami, 5 walang (wanita petualang). Hehehehe
Saya dan empat orang teman saya mengisi liburan pendek kemarin dengan backpackeran ke Dieng. Ya, kita lima wanita pemberani dan perkasa. Hahaha Kami pergi dengan sebuah mobil yang disopiri pamannya salah satu teman saya. Kami berangkat jam 10 malam tanggal 13 mei. Saat di tol (lupa namanya) yang mau keluar Jakarta, mobil kami macet selama empat jam setengah. Dua jam pertama saya muntah. Setelah bisa keluar kami kena macet lagi, akhirnya putar jalan lewat Purwakarta. Tapiiiiii, itu adalah jalur yang lama sekali, rasanya tidak sampai-sampai.
Kami nyasar sodara-sodara. Nyasar sampai ke pedesaan yang kami ga tau namanya. Lalu setelah mulai ada titik-titik harapan, kami bertanya ke penduduk setempat, mereka bilang Dieng masih lumayan jauh, dan kami disuruh ke jalan yang super duper tinggi dan mereka bilang itu jalannya jelek sekali. Lalu kami mencoba mencari alternatif lain melalui google map, dan itu juga ga ada harapan, akhirnya mau tidak mau kami menyusuri jalan yang semakin naik, semakin tinggi, semakin jelek, dan hari semakin gelap. Jalanannya benar-benar tinggi dan super duper jelek (kalau baru selesai makan, dijamin isi perut keluar semua). Tapi pemandangannya super duper bagus. Saya merasa mendaki gunung dengan mobil. Dan sopir kami super sekali bawa mobilnya, hebat banget. Sudah dipastikan, jalan-jalan berikutnya akan memintanya lagi untuk menemani kami. Hehehe
Dan saat sampai di atas, di tengah-tengah "gunung" dan di tengah-tengah kegelapan serta dingin, saya sudah mau nangis karena bensin tinggal setengah, hari sudah malam, Dieng belum ada tanda-tanda, penginapan juga entah dimana, dan kami sudah berada dijalanan selama 21 jam! Can you imagine how freaking out I was? How scared I was? Jadi akhirnya kami tetap mengikuti jalan (jalan satu-satunya) yang ada di depan yang mana jalan tersebut adalah turunan (secara kami ini lagi ada di puncak jadi jalannya cuma ada jalan turun). Setelah mengikuti jalan tersebut, akhirnya mulai ada tanda-tanda kehidupan yang mana kota sudah mulai terlihat, dan sampailah di kecamatan Batur. Tidak mau ambil resiko nyasar lagi, kami paksa yang punya homestay untuk jemput kami. Akhirnya sang jemputan datang, lalu sampai lah kami di Dieng. Dinginnya super sekali! Setelah menurunkan semua barang-barang dari mobil, kami mandi. Habis mandi saya makan, lalu kerokan. Ya, badan saya langsung drop sekali. Saya tidak pernah melakukan perjalanan jauh, ini adalah yang pertama kali. Perjalanan ke Dieng kami tempuh selama 23 JAM! Bayangkan saja duduk di mobil selama itu, berenti cuma pas pipis dan makan saja. Sopir kami pun fisiknya kuat sekali. Pokoknya selama di Dieng fisik saya lumayan lemah, tapi saya tidak memikirkannya, karena senang sekali akhirnya sampai dan tidak sabar untuk berpetualang.
Tanggal 15 Mei.
Yay! Di Dieng sudah! Dan kami sangat-sangat beruntung, homestay kami dekat sekali dengan salah satu tempat wisata di Dieng. Tinggal jalan kaki 5 menit lalu sampai. Dan pemandangan sekitar homestay tuh indaaaahhhh sekaliiii. Ada gunung, kebun kentang dan sayuran. Saya bangun jam setengah delapan pagi, masih ingin tidur sebenarnya, tapi karena tidak mau melewati kesempatan menjelajah daerah sekitar homestay, saya akhirnya bangun juga. Sejuk sekali pagi-pagi, dingin walaupun matahari bersinar terang benderang dan langit yang biru, cerah, dan bersih.
Bangun dari tidur, sang ibu homestay sudah menyiapkan teh manis hangat dan kentang goreng. Teh manis disana cukup unik karena memakai gula merah, tapi rasanya enak, dan kentang gorengnya uenak tenan. Hehehe Pagi itu saya dan kamera tercinta, teman-teman, dan tak lupa tongsis, keluar homestay untuk berfoto ria. Kami senangnya minta ampun, kayak anak ayam lepas kandang. Pokoknya senang banget. Hahahaha
Puas berfoto-foto, kami sarapan kentang goreng, mandi, lalu makan pagi. Makanan di sekitar homestay cukup terjangkau harganya dan rasanya lumayan enak (mungkin karena dingin dan lapar). Setelahnya, kami jalan kaki menuju tempat wisata yang paling dekat dengan homestay, yaitu kawasan Candi Arjuna. Disana, ya cuma ada candi-candi. Tapi di sekeliling candi hijau semua pemandangannya. Bagus. Puas jalan-jalan dan foto-foto, serta bertanya-tanya tentang tempat wisata lainnya, kami balik ke homestay ambil mobil, lalu menuju Kawah Sikidang.
Well, di Kawah Sikidang, saya mulai merasa pusing, ditambah bau belerang yang nyengat sekali. Akhirnya saya tidak turun kawah. Teman-teman saya yang turun kesana mengatakan bahwa pemandangan disana cukup bagus. Sekitar satu jam di Kawah Sikidang, kami menuju Batu Pandang yang mana kami bisa melihat penampakan Telaga Warna dari atas. Telaga Warna ini adalah telaga yang memiliki dua warna. Bagus sekali pemandangan dari atas. Dan karena kami pergi pas liburan, ramenya bukan main.
Untuk masuk ke Batu Pandang, kami harus mendaki dan tiket masuknya adalah sepuluh ribu. Saat setengah jalan mendaki, kami melihat sebuah jalan di sebelah kiri yang sepertinya akan tembus ke Telaga Warna, dan saat perjalan pulang dari Batu Pandang, kami berencana menelusuri jalan tersebut.
Sampai lah sudah di puncak Batu Pandang. Banyak batu-batu disana. Benar saja pemandangan sekitar sangat enak dilihat, sayangnya terlalu ramai jadi tidak begitu menikmati. Di Batu Pandang tentu saja kami berfoto-foto ria lagi. Hehehe
Sudah puas berfoto-foto, kami pun turun, lalu kami belok ke jalan yang tadi saya sebutkan. Kemudian, kami bertemu seorang petani, beliau mengakatakan kalau jalan ini bisa tembus ke Telaga Warna, hanya saja jalannya kurang bagus dan cukup jelek, tapi kalau masuk ke telaga warna dari depan, harga tiket masuknya cukup mahal. Lalu, kami akhirnya mengambil jalan geratis dengan menuruni "bukit" ini yang turunannya cukup terjal, tidak butuh waktu lama untuk turun karena kami cukup lincah. Hahahaha
Setelah turun, sang telaga sudah terlihat, tapi kami tidak melihat penduduk satupun, akhirnya kami menyusuri jalan setapak yang becek, dan akhirnya terlihat lah para manusia wisatawan dan telaga dengan air hijau toska. Dari bawah Telaga Warna ini biasa saja (atau karena saya terlalu lelah akhirnya tidak menikmati), tapi pengunjungnya cukup ramai. Setelah melihat-lihat sekeliling, kami pun keluar dan menunggu sopir kami menjemput kami untuk pergi ke Telaga Menjer.
Telaga Menjer berada di dekat Wonosobo, sekitar 1 jam dari homestay kami. Telaga Menjer ini sangat tenang dan damai sekali rasanya berada disana. Mungkin karena sudah sore sekali kami perginya, jadi sudah sepi. Kami tidak banyak foto-foto disini karena sudah lelah dan ingin menikmati ketenangan yang ada. Menjelang malam, kami pun pulang. Kabut sudah turun, cukup tebal hingga sulit melihat jalan, dan tentunya saja dingin yang setara dengan 10 ac mulai menyapa.
Sebelum pulang ke home stay, kami makan malam terlebih dahulu. Makan malam sambil kedinginan (banget) dan tertawa terbahak-bahak menertawakan diri kami di dalam foto-foto tadi (konyol dan aneh memang). Tak terasa perjalanan kami sudah mau berakhir. Besoknya kami sudah harus kembali ke jakarta.
Jam 9 malam saya sudah tidur karena harus bangun pagi sekali untuk berangkat ke Sikunir melihat sang surya terbit.
16 Mei.
Jam 2 pagi alarm saya berdering. Malas sekali untuk bangun. Saya mematikan alarm, baring-baring lagi hingga setengah 3 kurang. Lalu saya membangunkan semua teman saya, kemudian cuci muka, siap-siap, lalu berangkatlah kami ke Sikunir. Perjalan ke Sikunir hanya sebentar, sepertinya kurang dari setengah jam, karena dekat sekali dari homestay kami.
Sesampai di Sikunir kami harus mendaki, mendaki dalam kegelapan dan kedingin. Kami semua lupa membawa senter. Senter kami tertinggal di homestay. Tapi, kami tidak mendaki sendirian, ada banyak wisatawan dari berbagai daerah yang mendaki bersama kami, jadi pendakian cukup mudah bagi kami.
Medan pendakian cukup terjal dan licin. Harus hati-hati sekali dalam mendaki di subuh-subuh seperti ini. Sesampainya diatas, penuh sekali dengan manusia, sudah seperti lautan manusia, untungnya tour guide kami yang mana adalah pemilik homestay sudah kenal dengan tempat ini, diajak lah kami ke sisi Bukit Sikunir yang lain walaupun harus mendaki lagi sedikit. Kami harus menunggu hampir satu jam untuk melihat keindahan sang surya. Tapi saat sang surya muncul perlahan-lahan, semua lelah dan dingin sirna sudah. Cantiknyaaaaa. Pokoknya cantik sekali. Beruntung tempat kami startegis walaupun banyak orang. Sambil menikmati sambil foto-foto tentunya. Hehehehe
Setelah matahari mulai tinggi, kami pun turun bukit. Anehnya saat turun bukit ini, kami terkena macet. Jadi tidak di kota tidak di desa, sama-sama macet. Cukup memakan waktu yang lama saat turun bukit. Sampai di bawah, kami menikmati keindahan Telaga Cebong. Telaga Cebong berada tepat di bawah Sikunir. Banyak orang berfoto ria di telaga ini termasuk kami. Hehehe
Rasanya semua kerja keras kami untuk ke Dieng, terbayarkan dengan cukup memuaskan (tidak 100% puas karena ramai sekali). Dari awal berangkat yang mana saya sudah tidak enak badan walaupun sudah minum antimo, lalu nyasar, perjalan selama 23jam, mendaki gunung dengan mobil dan jalanannya jelek banget (the bumpiest road that I've ever been - kayak main tornadonya dufan), sampai akhirnya lihat matahari terbit.
Memang tujuan utama ke Dieng adalah melihat mataharinya terbit. Beruntung sekali cuaca cerah. Sepertinya alam pun kasihan dengan 5 walang ini, jadinya diberikan lah kami cuaca cerah, sehingga dapat menikmati indahnya matahari terbit.
Dua minggu sebelumnya, teman saya ada pergi ke Dieng, dan dia tidak bisa melihat matahari terbit karena mendung. Well, how lucky we were! :)
Pada bulan Juli sampai Agustus, Dieng akan berada di titik suhu terendah, yaitu nol derajat celcius. Jadi pagi-pagi saat bangun tidur, kita akan melihat embun-embun beku. Saya rasa pada saat itu saya akan tidur dengan empat bed cover tebal. Hehehe
Jam 11 siang kami pun memulai perjalanan pulang, sebelum pulang kami ingin melihat Dieng dari gardu pandang, tapi masalahnya adalah kami nyasar lagi. Si gardu pandang ga ketemu-ketemu. Namun, selama perjalanan nyasar ini, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa indah. Pokoknya indah banget. Lembah-lembah, kebun-kebun teh, dan bukit-bukit yang semuanya berwarna hijau, pokoknya indah dan cantik banget. Kayak di film-film kungfu cina gitu, pokoknya indah sekaliiiii sampai ga tau gimana jelasinnya. Saya mau merekam atau mengambil foto pemandangan tersebut, tapi apa daya tubuh saya lemah sekali, saya pusing sekali, dan mual sekali. Kali ini saya benar-benar drop. Dan sangat disayangkan, saya hanya bisa merekam itu semua didalam otak saya. Kami semua tidak tahu daerah ini berada dimana, yang jelas sudah agak jauh dari Dieng, dan mungkin sudah bukan Dieng lagi, tapi sekali lagi saya tegaskan bahwa daerah indah sekali. Kami nyasar selama kurang lebih tiga jam. Kami berhenti di sebuah warung makan. Disana saya mengeluarkan isi perut saya, lalu mengisinya lagi karena ingin minum obat.
Selama perjalanan pulang, yang saya lakukan adalah tidur, karena teman saya memberikan vitamin B yang mana vitamin itu membuat saya tertidur pulas. Saya meminta mereka untuk memberikan obat yang bisa menghentikan mual dan pusing saya karena rasanya promag dan tolak angin tidak lagi mempan. Karena mereka tidak tahu harus memberi obat apa, diberilah saya vitamin B. FYI, dua teman saya adalah lulusan sarjana keperawatan di Filipina, jadi saya percaya saja dengan mereka. Lucunya, mereka tidak memberi tahu saya obat apa yang mereka berikan, setelah saya merasa agak nyaman barulah mereka bilang bahwa itu hanya vitamin B yang akan membuat saya mengantuk. Hehehe perjalanan pulang di tempuh sekitar 8-11 jam (lupa pastinya berapa). Sudah tidak nyasar lagi, karena kami mengambil jalur yang benar, jalur yang harusnya kami lewati saat pergi ke Dieng (tapi tidak bisa, karena tolnya waktu itu macet sekali).
Sepulang dari Dieng, saya makin lemah, saya bahkan tidak kuat berjalan. Untung keesokannya hari minggu, jadi selama hari minggu saya beristirahat dan minum obat. Lalu, hari minggu berikutnya, saya kembali drop. Teman saya bilang saya pucat seperti mayat. Hahaha Ya mau gimana lagi, ini adalah perjalanan terpanjang dan terlama serta termelelahkan yang pernah saya tempuh. Tapi untungnya saya tidak cengeng dan banyak mengeluh, serta tidak merepotkan teman-teman saya.
Setelah dari Dieng, rasanya saya ingin berpetualang lagi. Ingin lebih mengenal Indonesia. Indonesia itu indah banget. Dan saya ingin mendaki lagi. Hahahaha belum berani untuk mendaki gunung sih, tapi saya sempat baca-baca tentang Bandung, ternyata ada gunung yang lebih dibilang bukit. Medan pendakiannya tidak terlalu susah. Semoga saya berkesempatan mendakinya. Well, I'm in love with traveling now. :D
*untuk melihat sisa foto, bisa ke instagram saya: @novilianacen.



Komentar
Posting Komentar